BBM

Kenaikan BBM belum lama ini cukup berdampak bagi masyarakat secara menyeluruh. Diantaranya kelompok masyarakat yang cukup terkena dampaknya adalah para petani, dampak kenaikan harga BBM terhadap biaya produksi pertanian mencapai 10-15 persen. Diantara biaya produksi yang mengalami kenaikan antara lain, biaya sewa traktor tangan untuk membajak lahan, upah tanam, biaya angkut pupuk dan biaya penggilingan padi. Biaya sewa traktor tangan misalnya, sebelum kenaikan harga BBM dipatok sebesar Rp15.000/15 M2 atau sekitar Rp 660.000/Ha, kini meningkat menjadi Rp17.500/15 M2 atau sekitar Rp770.000/Ha, biaya angkut pupuk juga naik sekitar Rp3.000/kwintal. (antara news).

Dari hal-hal tersebut saja kita bisa bayangkan bagaimana dampaknya terhadap pejualan komuditi hasil pertanian. Biaya produksi yang meningkat, serta tranportasi yang meningkat menyebabkan harga komuditi hasil pertanian menjadi mahal, karena itu pada umumnya masyarakat akan mengurangi tingkat konsumtivitas terhadap komuditi hasil pertanian. Bahkan Serikat Petani Indonesia (SPI) menyerukan 7 buah tuntutan kepada pemerintah, diantaranya :

1. Segera laksanakan program pembaruan agraria yang seperti telah di janjikan Presiden SBY sejak awal tahun 2007 lalu. Dengan demikian 13 juta keluarga tani miskin bisa bekerja dan menghidupi keluarganya dengan terjamin. Demikian juga pembaruan agraria artinya ada perombakan secara struktural atas kepemilikan, penguasaan dan penggunaan atas sumber-sumber alam termasuk pertambangan untuk kepetingan nasional.

2. Hentikan perluasan perkebunan non pangan oleh perusahaan dan orientasi eksport, sebaliknya pemerintah harus mendorong pertanian pangan berbasis keluarga dan orientansi pemenuhan kebutuhan lokal dan nasional. Dengan demikian memberikan insentif bagi petani pangan, terutama yang melaksanakan pertanian berkelanjutan; dan dengan itu menghentikan subsidi bagi usaha pertanian yang tidak berkelanjutan (pertanian korporasi dan monokultur).

3. Segera bangun lumbung-lumbung pangan .

4. Kebijakan penghematan energi dengan pajak tinggi bagi kalangan yang menggunakan energi yang besar.

5. Mendorong kembali rakyat pedesaan yang kembali menjadi penghasil energi, yang akibat dari sistem neoliberalis menjadi konsumen energi.

6. Pergunakan secara maksimal teknologi energi yang merakyat, murah dan massal seperti tenaga air, angin, matahari, gelombang laut dan biogas.

7. Hentikan utang dan tolak bayar utang najis

Disini saja sudah dapat terlihat bahwa komunitas- komunitas tani merasa terbebani oleh dampak kenaikan BBM. Contoh lain yang dilematis yang di alami petani adalah naiknya harga pupuk, di satu sisi petani dihadapkan kepada kebutukan pupuk yang untuk meningkatkan hasil produksinya, namun pupuk semakin mahal disamping itu dibeberapa daerah pupuk bersubsidi yang disediakan pemeritah semakin langka. Jadi menurut saya sepertinya pemerintah perlu mengadakan kontrak tersendiri dengan para petani, sehingga petani tidak semaki sulit menghadapi dampak kenaikan BBM yang semakin melambung tinggi dan bakal akan selalu meroket mengikuti harga minyak dunia.

This entry was published on July 4, 2008 at 10:04 am. It’s filed under Artikel and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “BBM

  1. Sutarsa on said:

    Tulisan yang inspiratif Ton. Seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi bagi siapapun dalam menghadapi situasi bangsa kita yang serba tidak menentu. Semuanya adalah akumulasi, dan waktu berbenah mungkin tidak akan cukup dalam waktu 10 tahun. Kenaikan BBM (akibat kenaikan harga minyak dunia) hanya salah satu masalah dari sekian banyak masalah yang kita hadapi. Jawabannya mungkin berbenah dengan pintas generasi.
    Tetap berkarya ya Ton!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: