SEPENGGAL KISAH PENGUASA HERAT

Ini adalah kisah yang menarik yang ada di dalam novel “THE WINNER STANDS ALONE” karya Paulo Coelho yang juga menciptakan “THE ALCHEMIST” novel yang terkena dan telah di terjemahkan ke dalam banyak bahasa. Bagian cerita ini sangat menarik dikarenakan ada seorang pemuda yang berani mengambil keputusan, untuk menjadi raja bagi masyarakatnya kendali ia tahu, ia harus dapat menerima konsekuensi yang berat, bukan hanya untuk dirinya namun juga bagi seluruh keluarganya. Ini kisah penguasa Herat.

Setelah berabad-abad mengalami kekacauan dan pemerintahan yang buruk, rakyat sebuah kota yang letaknya jauh di atas salah satu gunung di daerah gurun provinsi Heart mulai putus asa. Mereka tidak dapat menyingkirkan monarki yang ada, tapi juga tidak tahan lagi menghadapi generasi kepemimpinan yang arogan dan egois. Mereka pun memanggil Loya Jirga, atau dewan local yang terdiri atas orang-orang bijak.
Loya Jirga memutuskan untuk mengangkat seorang raja setiap empat tahun, dan raja tersebut memiliki kekuasaan penuh. Raja boleh nenaikan pajak, memerintahkan agar rakyat patuh sepenuhnya, tidur dengan wanita berbeda setiap malam, dan makan-minum sampai puas. Raja boleh memakai pakaian terbaik dan mengendarai kuda terbagus. Singkatnya apapun titah raja, betapapun absurdnya, akan dipenuhi, dan tak seorangpun akan bertanya titah itu logis atau adil.
Namun, setelah masa empat tahun pemerintahan, raja harus turun tahta dan meninggalkan kota ini dengan hanya membawa keluarga serta pakaian di badan. Semua orang tahu itu akan berujung dengan kematian tiga atau empat hari karena tidak ada bahan makanan atau minuman di gurun luas yang luar biasa dingin pada musim dingin dan seperti neraka pada musm panas.
Orang-orang bijak Loya Jirga berasumsi tak seorangpun mau mengambil resiko untuk menjadi raja sehingga mereka bisa kembali ke sistem lama, yaitu pemilihan raja secara demokratis. Mereka mengumumkan keputusan tersebut dan tampuk kepemimpinan pun kosong. Awalnya, beberapa orang mengajukan diri. Pria tua berpenyakit kanker menerima tantangan tersebut dan meninggal dengan bahagia saat masih memerintah. Ia digantikan oleh seorang pria gila yang meninggalkan tahta empat bulan kemudian( karena salah mengerti tentang syarat-syaratnya). Pria itupun hilang di gurun. Lalu berkembang desas-desus bahwa tahta itu tekutuk sehingga tak seorang pun berani mengajukan diri. Kota tersebut tidak memiliki pemimpin dan situasi mulai membingungkan sehingga para penduduknya sadar mereka perlu melupakan tradisi monarki dan bersiap-siap untuk mengubah cara mereka. Loya Jirga senang karena penduduk membuat keputusan bijaksana. Mereka tidak memaksa penduduk, mereka hanya menyingkirkan orang-orang yang menginginkan kekuasaan apa pun konsekuensinya. Kemudian seorang pemuda, yang sudah menikah dengan tiga anak, mengajukan diri.
“Aku menerima tawaran itu,” kata si pemuda.
Para bijaksana berusaha menjelaskan resikonya. Mereka mengingatkan bahwa ia memiliki keluarga serta menjelaskan bahwa keputusan mereka hanyalah cara supaya tidak ada pemimpin yang kejam dan asal-asalan. Namun si pemuda tetap bertekat kuat, dan karena mereka tidak mungkin membatalkan keputusan sendiri. Loya Jirga tidak punya pilihan selain menunggu empat tahun sampai rencana pemilu bisa dijalankan.
Pemuda itu serta keluarganya teryata pemimpin yang baik. Mereka memerintah dengan adil, membagikan kekayaan dengan rata, menurunkann harga bahan pangan, menyelenggarakan berbagai pesta rakyat untuk merayakan perubahan musim, serta mendorong rakyat untuk bermusik dan membuat kerajinan. Namun setiap malam, karavan besar yang ditarik banyak kuda meninggalkan kota tersebut, di belakangnya berderet gerobak-gerobak berat bertutup terpal sehingga tidak ada yang tahu apa isinya. Gerobak-gerobak itu tidak pernah kembali.
Awalnya, para orang bijak dari Loya Jirga mengira sang raja pasti memindahkan harta karun dari kota, namun mereka kembali tenang karena pemuda itu hampir tidak pernah keliar dari tembok kota; kalaupun ia memanjat gunung terdekat, ia pasti sadar kuda-kudanya akan mati sebelum sampai tujuan. Lagi pula, kota tersebut terletakdi tempat paling terpencil di planet ini. Mereka yakin setelah pemerintahan raja berakhir, mereka bisa mendatangi tempat kuda-kudanya mati kelelahan dan si penunggang mati kehausan, dan akan menemukan semua harta karun itu.
Mereka tidak khawatir lagi dan menunggu dengan sabar.
Pada akhir masa empat tahun, si pemuda turun tahta dan meninggalkan kota. Masyarakat memperotes; lagi pula, sudah cukup lama mereka diperintah oleh raja yang bijak sana dan adil!
Namun keputusan Loya Jirga harus dihormati. Pemuda itu menghampiri istri dan anaknya, lalu meminta mereka ikut bersamanya.
“Aku akan ituk,” kata istrinya, “tai setidaknya biarkan anak-anak kita tinggal. Supaya mereka tetap hidup untuk menceritakan kisah hidupmu.”
“Percayalah padaku,” kata suaminya.
Hukum suku sangat ketat dan sang istri tidak punya pilihan lain selain mematuhi suaminya. Mereka mengendarai kuda ke gerbang kota dan mengucapkan selamat tinggal kepada semua teman yang mereka kenal selama empat tahun pemerintahan. Loya Jirga senang. Mungkin mereka memiliki banyak musuh, tapi takdir adalah takdir. Tak seorang pun mau mengambil resiko memerintah kota, dan tradisi demokrasi akhirnya akan kembali digunakan. Sesegera mungkin, mereka akan menggali kekayaan yang dikubur di gurun, kurang dari tiga hari perjalanan dari tempat itu.
Keluarga tersebut menuju lembah kematian tanpa suara. Sang istri tidak berani berkata apa-apa, anak-anak mereka tidak mengerti apa-apa yang terjadi, sementara pemuda itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Mereka menaiki bukit, menempuh perlanan satu hari penuh menyeberangi  gurun luas, lalu tidur di puncak bukit yang lain.
Sang istri bangun subuh-subuh, ingin menikmati hari-hari terakhir hidupnya dengan melihat pemandangan pegunungan yang sangat ia cintai. Ia naik ke puncak paling tinggi dan menatap ke bawah, ingin melihat hamparan pasir yang membentang luas, tapi ia terkejut luar biasa.
Selama empat tahun, rombongan karavan yang meninggalkan kota setiap malam bukan membawa permata atau koin emas. Mereka membawa batu bata, biji-bijian, kayu, genteng, rempah-rempah, ternak, serta alat-alat tradisional yang bisa digunakan untuk mengebor tanah untuk mencari sumber air.
Di hadapanya terbentang kota yang jauh lebih modern serta lebih indah daripada kota yang lama, dan semuanya sempurna.
“Ini kerajaanmu,” si pemuda, yang baru bangun dan bergabung dengan istrinya. “Sejak mendengar dekrit tersebut, aku tahu tak ada gunanya berusaha mengubah pemerintahan yang korup dan rusak dalam empat tahun. Namun aku meyakini satu hal, kita bisa memulai semuanya dari awal.”

Kisah cerdas ini semoga dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang peduli terhadap kaumnya, agar dapar lebih bijaksana dan adil dalam mengambil keputusan. Untuk mengubah suatu kau memang membutukan usaha yang keras serta kemauan kaum itu sendiri, dan juga waktu yang tidak singkat. Jadi berusahalan dengan gigih serta penuh semangat, agar seluruh tujuan baikmu dapat terwujud!.

This entry was published on May 21, 2010 at 2:01 am. It’s filed under Artikel, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: