Organic School Garden

Menurunkan angka kematian anak merupakan target keempat Millennium Development Goals (MDGs). Namun hingga saat ini, morbiditas dan mortalitas anak di Indonesia masih cukup tinggi. Hal ini terkait dengan tingginya prevalensi penyakit seperti diare, dan ISPA. Pada tahun 2004, data UNICEF menunjukkan bahwa angka kematian bayi (Infant Mortality rate) sebesar 23 tiap 1000 kelahiran, dan Angka Kematian Balita sebesar 32 tiap 1000 anak.

Masalah kesehatan anak di Indonesia mencakup masalah gizi dan pangan, yang meliputi kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, gondok endemik dan anemi zat besi. Data Susenas 2006 menunjukkan bahwa lebih dari seperempat anak-anak Indonesia kekurangan gizi. Pada 1990, angka kekurangan gizi pada anak-anak sekitar 35,5%, jadi harus ditekan menjadi sekitar 17,8%. Dalam kurun waktu 1989–2000 persentase balita berstatus gizi kurang mengalami penurunan dari 31,17 persen menjadi 17,13 persen. Angka ini meningkat kembali menjadi 19,24 persen pada tahun 2005. Hal ini menyebabkan tingginya morbiditas dan mortalitas pada anak.

Tinggi rendahnya morbiditas anak menjadi salah satu tolak ukur kesehatan masyarakat sekaligus merupakan prioritas pembangunan kesehatan. Morbiditas anak disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan pengetahuan, status kesehatan, dan perilaku masyarakat. Morbiditas berkaitan erat dengan tingkat perkembangan yang dicapai seorang anak. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat berhubungan erat dengan faktor lingkungan. Faktor lain yang juga mempengaruhi tumbuh kembang adalah gizi, sosio-ekonomi, emosi dan lain-lain. Hal lain lagi yang juga berpengaruh adalah kualitas hubungan antara anak dan orangtua, pola pengasuhan anak dan perhatian pribadi serta kebutuhan orang tua. Beberapa penelitian telah menemukan adanya hubungan antara penyakit dan lingkungan sosioekonomi serta faktor risiko individu. Namun secara garis besar, berbagai faktor tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok besar yaitu faktor pangan, lingkungan dan perilaku.

Kesehatan dan gizi merupakan aspek yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Penelitian Ernesto Pollitt dkk (1993) menyatakan bahwa pemberian makanan yang sehat dan protein, akan mempengaruhi perkembangan kognitif selanjutnya. Selain itu, apa yang dikonsumsi anak juga ikut mempengaruhi pertumbuhan, ukuran badan dan ketahanan terhadap penyakit (Brom dkk, 2005 dalam Santrock, 2007). Tumbuh kembang yang normal pada seorang individu sangat dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara pengaruh hormonal, respons jaringan dan gizi. Masalah gizi dan pangan hingga saat ini masih banyak terdapat di seluruh provinsi di Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan bahwasanya persoalan gizi dan pangan memerlukan penanganan yang lebih menyeluruh, termasuk memberikan perhatian kepada aspek ketahanan pangan rumah tangga.

Gizi dan pangan sehat merupakan faktor yang bersifat multidimensi dan berdampak yang irreversible bagi perkembangan anak. Penanganan anak-anak yang mengalami gizi buruk, misalnya, mungkin saja dapat menolong anak untuk hidup lebih sehat. Akan tetapi apabila perkembangan fisik otaknya terganggu, gangguan tersebut akan sulit diperbaharui lagi. Dampak jangka panjangnya akan merugikan anak tersebut. Oleh karena itu perlu diupayakan penanganan lintas sektoral untuk masalah pangan sehat dan tidak semata menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Upaya penanggulangan masalah gizi dan pangan sehat harus dilakukan secara sinergis meliputi berbagai bidang seperti pertanian, pendidikan, dan ekonomi.

Lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang dapat diintervensi dalam upaya menurunkan angka morbiditas anak. Lingkungan yang meliputi fisik dan biologis serta lingkungan sosio budaya rnerupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan anak. Lingkungan fisik dan biologis erat hubungan dengan tingginya angka kesakitan penyakit menular antara lain adanya iklim tropis yang memungkinkan berkembangnya penyebab infeksi, masalah air bersih, sanitasi yang buruk serta polusi lingkungan.

Masalah kesehatan yang dihadapi oleh anak usia sekolah dan remaja sangat kompleks dan bervariasi. Pada anak usia TK/RA dan SD/MI biasanya berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, serta membersihkan kuku dan rambut. Perilaku konsumsi anak juga berpengaruh terhadap kesehatan anak. Santrock (2007) juga menyatakan bahwa pada umumnya masalah kesehatan yang sering dialami anak-anak adalah kurang gizi, pola makan, kurang olah raga dan pelecehan. Hal serupa dikemukakan oleh Pollitt dkk, bahwa gizi sangat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Pola makan sangat berkaitan erat dengan hal ini. Maraknya makanan cepat saji dengan berbagai variasi yang sangat menarik untuk anak seperti hot dog, pizza, hamburger, menjadi kendala tersendiri yang mempersulit pemenuhan kebutuhan gizi yang sehat.

Upaya penanggulangan masalah kesehatan anak dapat ditempuh melalui strategi jangka pendek dan jangka panjang. Strategi jangka pendek meliputi upaya meningkatkan pengetahuan dengan membuka akses informasi seluas-luasnya mengenai pangan sehat serta perilaku konsumsi tidak sehat. Selain itu dengan memberi pengalaman langsung melalui keterlibatan aktif terhadap proses pengolahan pangan sehat serta pertanian ramah lingkungan. Strategi inilah yang hendak diterapkan pada anak usia sekolah untuk membentuk generasi sadar lingkungan.

Dimensi tantangan penanganan kesehatan anak selanjutnya mengandung tiga masalah mendasar, yaitu masalah pelaksanaan, masalah sasaran, dan masalah lokasi. Pelaksanaan penanganan masalah kesehatan anak mengharuskan adanya kerjasama lintas bidang yaitu kesehatan, lingkungan dan pendidikan. Kemitraan yang efektif sangat diperlukan sebab hal ini akan bermuara pada perbaikan atau penurunan kualitas penduduk berusia muda

Wujud konkrit dalam kemitraan yang melibatkan sektor kesehatan. lingkungan dan pendidikan dalam menangani masalah kesehatan anak ini hendak diimplementasikan ke dalam suatu program yaitu “Organic School Garden

Dari sektor kesehatan, proyek ini diharapkan dapat memperkenalkan dan membudayakan “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)”. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencanangkan konsep sekolah sehat atau Health Promoting School. Sekolah sehat adalah sekolah yang telah melaksanakan UKS dengan ciri-ciri melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan masalah kesehatan sekolah, menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan aman, memberikan pendidikan kesehatan di sekolah, memberikan akses terhadap pelayanan kesehatan, ada kebijakan dan upaya sekolah untuk mempromosikan kesehatan dan berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Berkaitan dengan hal itu maka upaya memupuk kebiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sedini mungkin dengan membentuk kebiasaan menggosok gigi dengan benar, mencuci tangan, serta membersihkan kuku dan rambut. Jumlah usia sekolah yang cukup besar yaitu 30 % dari jumlah penduduk Indonesia merupakan masa potensial untuk menanamkan PHBS sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Dengan menerapkan PHBS di sekolah oleh peserta didik, maka akan membentuk mereka untuk memiliki kemampuan dan kemandirian dalam mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat

Sedangkan dari sektor lingkungan, proyek Organic School Garden berupaya memberikan pengalaman langsung kepada anak sekolah mengenai pangan sehat dan pelestarian lingkungan. Selama ini upaya pelesarian lingkungan masih dititikberatkan pada penangananan masalah sampah dan penghijauan. Padahal masalah lingkungan bukan hanya terbatas pada masalah sampah. Sehingga, kami berupaya menawarkan sisi berbeda dalam memandang persoalan lingkungan, yaitu dengan merancang suatu kebun organik. Dengan menanam sayuran organik di sekolah, anak-anak akan belajar mengenai kesehatan diri mereka dan hubungan mereka dengan lingkungan. Mereka juga belajar bagaimana membuat kompos, merotasi tanaman, irigasi dan prinsip lainnya termasuk fakta bahwa bahan-bahan kimia tidak diperlukan untuk menciptakan produk makanan sehat. Hal yang terbaik dari semuanya, anak-anak dapat mengkonsumsi produk segar yang mereka tanam.

Selanjutnya dari sektor pendidikan, proyek Organic School Garden juga menawarkan sisi edukasi yang berbeda. Melalui proses belajar interaktif, yang diselenggarakan 2-3 kali per minggu (tergantung kebutuhan sekolah), guru dapat memandu siswa untuk belajar kreatif mengenai pangan sehat, pengaruh makanan terhadap kesehatan mereka dan bagaimana menjaga diri mereka serta lingkungan. Dibandingkan dengan aktivitas di dalam ruangan (indoor), proyek kebun sekolah ini lebih banyak melibatkan aktivitas di luar ruangan.

Dari semua hal tersebut kami membutukan dukungan dan bantuan dalam segala bentuk kepada seluruh masyarakat, untuk memsukseskan program ini. Program ini telah berlangsung didua sekolah dasar yaitu, SD 7 Batubulan, Gianyar serta SD Anak Mas, Denpasar, Bali. Dengan pelaksanan program adalah kolaborasi komunitas PINISI Indonesia dan Udayana Scientific Club , Universitas Udayana. Untuk dapat membantu masyarakat dapat mengisi form yang kami sediakan, sedangkan bila ada pertanyaan bisa langsung menghubungi anton di 081916184320 atau email: anton_430200@yahoo.com

FORMULIR BANTUAN ORGANIC SCHOOL GARDEN

This entry was published on October 31, 2010 at 2:24 am. It’s filed under organic school garden and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: