Kemarau

Kemarau habiskan telaga cinta, saat kemarau menghilang ia terisi oleh potongan kayu yang terbakar meradang dan menjauh. Sisakan bau arang yang terbang bersama guratan kasih. Tak ada hujan yang turun hingga ku menjadi layu. Tapi aku tetap menanti guratan petir sebagai penanda hadirnya hujan. Masih menanti kau cinta ditelaga pelangi, tak akan menyerah untuk mati disini. Aku akan mampu bertahan hingga kemarau berlalu, untuk bertemu denganmu, untuk dapat bertumbuh bersama, untuk dapat hilang bersama.

This entry was published on August 5, 2012 at 10:03 am. It’s filed under Pandangan Mata and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: