Pulanglah, dan Temukan Alasanmu Kembali

Hari ini mampir berteduh ke seorang kawan, tapi sebenarnya sih hendak meminta sebuah tali untuk membuat sepetak kebun baru. Obrolan kami diselingi dengan denting hujan yang jatuh perlahan, beruntung sang tuan dan nyonya rumah bersedia menyediakan secangkir kopi panas untuk menemani ombolan kami. Percapakan ringan kami dimulai dari hal yang tidak penting sama sekali, hingga ke sebuah bagian dari percakapan ini yang membuat saya ini menceritakan keharuan saya setelah saya pulang kerumah.

Keharuan yang saya maksud dimulai dari tiga bulan lalu, dimana terdapat penyegaran organisasi ditempat saya bekerja, ini membuat beberapa diantara kami mengalami pergesaran. Salah satunya saya. Saya yang belumnya berapa dibagian keuangan bergeser kebagian opasional, bersyukur karena membuat kami bisa belajar dan mengerti hal baru (semoga lancar). Dibabak baru karir saya, sudah dibumbui dengan insiden yang tidak menyenangkan bagi saya. Singkat cerita saya harus mengganti kehilangan uang yang tidak saya lakukan (nominal relatif bagi setiap orang loh), atau lebih tepatnya yang dilakukan oleh patner kerja yang lain. Tanggung jawab yang mendasari saya harus memutar otak untuk menggati kehilangan ini. Saya rasa saya mampu untuk mengganti kehilangan ini dan menyelesaikan masalah mereka sementara. Dimasa itu saya meminta kepada teman-teman kerja saya untuk berunding membicarakan hal ini, terlebih saya merasa mereka akan ringan untuk membagi beban itu beramai-ramai. Perihal ini juga telah saya sampaikan kepada pimpinan agar mendorong pertanggung jawaban teman-teman. Pimpinan akhirnya memberikan keputusan agar dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Diwaktu itu, Tuhan maha baik, saat saya tidak memegang uang (ada sih tapi gak bisa diambil, memang dalam hidup ada kalanya kita dibatasi) dan kebetulan yang baik ban saya rusak, saya harus menggatinnya dengan yang baru, atau saya tidak dapat pulang dari kantor, atau dengan pilihan memperbaikinya esok. Dikala itu Tuhan yang maha baik menyelamatkan saya, saya diberi pinjaman oleh Amaq Zul (semoga diberikan rezeki yang baik dan melimpat pak ya) satpam dikantor untuk membetulkan ban kendaraan saya. Disini saya melihat Tuhan selalu mengirimkan bantuan kepada kita melalui orang-orang baik lainnya (maaf ya pak kalau pernah lupa bayar hutang, saya gak niat beneran lupa () dan terselamatkanlah saya sampai rumah.
Situasi yang membuat saya kalut dan uring-uringan, situasinya juga menjadikan kami tidak nyaman (mungkin ini saya dalam memandang masalah ini, namun itulah pandangan saya), dimasa-masa seperti ini saya membutuhkan sosok bapak dan ibu sebagai penyejuk dan pembasuh batin saya, karena telepon saja tidak dapat menandingi senyuman dan ciuman dari orang tua. Disaat saya hendak mengajukan cuti ada hal lain yang menjadi kendala, izin dari yang punya kuasa administrasi, dengan kata-kata yang sama untuk mengambil cuti tahun lalu, dengan sangat sopan ditolak, “Perbaiki ini bro, salah biar enak dibaca”. Dia tak pengerti keadaan saya?, atau esensi dari surat saya yang salah atau sekedar tanda baca?, atau karena sudah terbiasa saya seperti itu? saya tidak tahu yang mana yang benar. Akhirnya saya yang mengalah, saya sampaikan kepada pimpinan secara non formal bahwa saya membutuhkan cuti, beliau mengiayakan dengan syarat setelah rampungnya audit intern yang akan kami hadapi, saya berterima kasih, setidaknya ada kejelasan akan masa cuti saya.
Hari berlalu saya yang berfikir akan ada kejelasan akan masalah ini dan mendapatkan hak saya kembali sudah mulai memikirkan hal lain, yaitu audit intern. Disela waktu, akhirnya saya mendapat kabar bahwa mereka akan mengganti secara bersama. Saya menjadi sedikit terhibur, dan itu butuh waktu. Oiya, ingat, disaat sulitmu kamu akan melihat siapa yang teman dan hanya rekan kerja. Teman tidak perlu berempati, cukup menanyakan masalah yang sedang kita hadapi saja sudah cukup bagi kita, kita juga tidak berharap ia menyelesaikan masalah kita namun setidaknya dia hadir disaat sulit kita.

Cuti akhirnya dimulai setelah melewati masa pemeriksaan akhirnya saya dapat pulang. Saya menemukan potongan masa kecil saya, salah satunya teman masa kecil, (banyak diantara mereka juga yang sudah merantau pergi atau hidup bersama pasangan mereka) bersama mereka (partner in crime) beberapa hari ini hampir setiap malam tepatnya kami menyaksikan turnamen bolavoli plastik. Sebenarnya pernah berfikir kenapa gak buat acara bola aja pasti lebih ramai dan memberi hadiah lebih besar, pertanyaan itu langsung saja saya utarakan, dan jawabannya sangat rasional. Jadi beberapa tahun yang lalu (saya lupa tahunnya) sudah pernah diadakan event sepakbola dikampung gayam ini, mereka dapat banyak sekali sponsor dari banyak pihak baik individu maupun perusahaan, namun kendalanya lebih berat bukan tentang teknis pertandingan namun lebih kepada teknis mengamankan penonton. Iya, penonton yang rusuh, kerusuhan yang sering terjadi, hampir disetiap pertandingan, ini membuat mereka meyerah mengadakan turnamen sepakbola kembali. Ternyata voli plastik seru juga, karena terlihat emosi warga yang mendapat hiburan (mall jauh bos) akan kompetisi yang berlangsung.
Nostalgia saya lainnya tentang berburu siput, didusun saya kalau ada hujan besar sering banyak siput berkeliaran. Jadi mereka kita buru untuk santapan maupun pakan unggas. Kami berkubang seperti kerbau ditengah hamparan sawah yang tergenang, Lucu juga ternyata mengenang masa kecil.

Perasaan saat pulang kerumah itu, seperti saat kita pulang dari sekolah dan menujukan dapat hasil ujian yang bagus atau setelah berantem dan dimarah oleh guru, intinya bahagia atau letihnya kita pulang selalu menyenangkan. Ingatlah tempat terbaik untuk rehat adalah rumah, karena ada keluarga disana. Orang tua saya mereka pribadi yang sangat saya hargai, karena dari mereka saya dan saudari-saudari saya dapat seperti ini, kini kami lebih baik dari pada awal kehidupan kami, ini berkat keringat mereka berdua. Banyak nasehat yang mengalir ketika saya pulang kali ini, baik tentang ibadah, karir, jodoh, ataupun cara berpakaian. Kadang juga muncul omelan, kadang saya dongkol, tapi setelah dipikir lagi itu pasti karena sayangnya bukan egonya.
Yang jelas masakan rumah itu nikmat. Ingatlah saudaraku yang baik hatinya (biar kayak motivator dikit) masakah rumah selalu nikmat, karena ada doa yang dipanjatkan demi kebaikan disetiap suapnya. Makanan dikampung saya sangat sederhana, namun seperti yang saya bilang tadi makanannya penuh doa, buktinya ketika saya kembali dari pulkam orang-orang dikantor bilang saya gemukan (padahal makannya sedikit, cuma sering nambah). Tak akan dapat dibayakan betapa nikmatnya pulang, bagaikan kita melihat masa ditimang ketika kecil, diusap ketika demam, dimarah dan dipukuli dengan sayang ketika kita berbuat nakal (yang terakhir sering). Potongan-potongan kebahagian ini membuat saya menemukan kembali alasan-alasan saya untuk pergi ketimur. Ingatlah bahwa kita tidak sendiri, masih banyak orang yang akan membantu kita dikala susah. Ketita kita pulang, kita seperti mengisi energi kebaikan kita kembali (walaupun saya masih banyak dosa), dan meminta doa dari orang-orang tua kita. Disetiap perjalanan selalu ada ujiannya, mungkin ini ujian bagi saya dan mungkin lain kali akan berbeda, namun yakinlah bahwa selalu ada jalan. Bersabar, ini yang sedang saya lalukan, saya tidak ingin kembali berkonflik dengan mereka karena masalah dikantor, saya juga tidak ingin membuat situasinya semakin rumit, saya sedang berusahan mencari pertolongNya, dan petunjuk untuk jalan yang terbaik melalui ujian ini. Saya enggan untuk menanyakan kembali tentang masalah itu, karena saya tidak ingin meremehkan kebesaran Tuhan dalam memberi rezeki. Dimasa pembaikan perasaan saya ini (read: pulang kampung/cuti) setelah adem dan reda amarah saya, akhirnya saya berdoa dan memohon pertolongan, saya berkata “ya Allah terima kasih atas apa yang kau berikan kepadaku selama ini, berikanlah kemudahan rezeki kepada mereka agar dapat memenuhi kewajiban mereka (dan pasti akan Engkau limpahkan, karena Engkau yang maha kaya) jikalaupun tidak mampu mereka lakukan, lapangkanlah hatiku, bahagiakan aku dalam kebaikan dan limpahkanlah rezekiku sebagai bentuk anugrahMu padaku dan keluargaku. Kepadamu yang maha pemurah lagi maha penyayang”. Semoga dikabulkan, Amin!.
Kesimpulannya, kita seperti kendaraan butuh juga rehat dan diservice. Ketika kita pulang itu berarti dapat mengenang masa-masa sederhana yang membahagiakan, dapat mencium tangan orang tua, tangan yang membesarkanmu dan memberkahi serta mendoakan kita. Menenangkan kita. Mengajarkan kita bersyukur. Jadi, pulanglah, dan temukan alasanmu kembali, karena itu kewajibanmu untuk memiliki perasaan, mendamaikan hati, dan berbahagian saat kembali merantau. Semangat!!

Catatan Janadi
Si mantan tukang catat gudang.

PS. Ini blog setelah 4 tahun membeku, jadi dimaklumi kalau gak diedit, udah ngantuk waktu nulis.

This entry was published on October 25, 2016 at 5:18 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: